Dolanan Bocah

DOLANAN BOCAH
Dolanan bocah adalah permainan tradisional yang di mainkan oleh anak-anak dan permainan tersebut harus menggunakan keseimbangan, kepercayaan dan kebersamaan.
Pada hari selasa, 10 januari 2017 kami bersama murid lainnya dan bapa sudaryanto menuju sanggar awan mukti kami berkenalan dengan ibu agung sri rezeki. dan kami diajarkan permainan tradisional gajah serempang, blarak sempal, dan bakiak. Yang pertama permainan gajah serempang, yaitu permainan yang terdiri dari 3 orang atau lebih cara mainnya saling mengaitkan salah satu kaki dengan kaki pemain lainnya. Setelah terkait semuanya berputar dengan cara engklek dengan satu kaki yang tidak terkait sambil menyanyikan lagu. Permainan ini memerlukan kekompakan dan keseimbangan. Setelah itu kami bermain permainan yang ke dua blarak blarak sempal, untuk dapat memainkan permainan blarak sempal harus berjumlah genap dan sedikitnya 4 orang dan sebaiknya 8 orang. Jumlah ini dibagi 2 kelompok, kelompok 1 yang duduk dibawah dan kelompok 2 yang berdiri untuk menarik, mereka berdiri diantara yang duduk. Setelah itu mereka mulai berputar. Kemudian kami bermain bakiak, bakiak adalah salah satu permainan tradisional bahannya dibuat dari kayu panjang dan dimainkan oleh 3 orang, permainan memerlukan kekompakan pada saat melangkah jika tidak serempak maka akan jatuh.

            BLARAK
Kata blarak-blarak sempal berasal dari bahasa Jawa. Blarak berarti daun kelapa yang sudah kering dan sempal artinya patah dari batangnya maka arti keseluruhan daun kelapa yang patah. Latar belakang sosial budaya permainan ini merupakan alat pergaulan, menghilangkan, rasa malu,mendatangkan rasa senang dan lain sebagainya. Selain itu, permainan ini dapat dilakukan oleh siapa saja dan tidak memandang golongan, semua orang boleh memainkannya.

Ditinjau dari sejarah perkembangannya, permainan blarak-blarak sempal ada yang mengatakan bahwa permainan tersebut semula berasal dari pedesaan terutama pedesaan yang terletak di pinggir pantai karena yang banyak tumbuh pohon kelapa adalah daerah pantai. Dari dahulu hingga sekarang permainan ini tidak banyak mengalami perubahan.

Siapa yang Biasa Bermain Dengan Blarak-Blarak Sempal?

Untuk dapat memainkan permainanblarak-blarak sempal harus berjumlah genap dan sedikitnya 4 orang namun sebaiknya 8 anak. Jumlah ini dibagi dua, kelompok I yang jadi dan kelompok II yang menarik. Setiap kelompok mempunyai anggota yang sama banyaknya. Kelompok I yang jadi misalnya a, b, c, dan d. Mereka duduk. Kelompok II yang menarik misalnya e,f,g, dan h. Mereka berdiri diantara yang duduk. permainan ini dapat dilakukan oleh anak-anak puteri maupun putera tetapi sebaiknya sejenis supaya seimbang, sedang anak yang memainkannya adalah anak-anak usia Sekolah Dasar yaitu 10 – 14 tahun. Namun sebaiknya anak yang memainkannya anak yang sudah agak besar karena memerlukan kekuatan fisik. Permainan blarak-blarak sempal hanya memerlukan sebuah sabut kelapa untuk alas kaki anak-anak yang jadi dan besarnya setengah serta ditelentangkan. Dalam permainan ini tidak menggunakan iringan bunyi–bunyian, namun hanya disertai lagu Blarak-blarak sempal yaitu sebagai berikut:

blarak-blarak sempa, diinciki mendal-mendal, legendre tak pancake, laki bangsat doyan teke
Jalannya Permainan

Para peserta dibagi dua kelompok yang sarna jumlah anggotanya. Kemudian sepasang-pasang para peserta hompipah untuk mengetahui kalah dan menang. Setelah itu yang kalah menjadi satu kelompok dan yang menang juga menjadi satu kelompok. kelompok yang menang termasuk kelompok I yang anggotanya a,b,c dan d sedangkan kelompok yang menang termasuk kelompok II yang anggotanya e,f,g, dan h. Selanjutnya kelompok II yang kalah (e,f,g,h) duduk di bawah atau dilantai dengan kaki keduanya diluruskan ke depan ataus lonjor dan telapak kaki mereka saling bertemu serta dibawahnya diberi alas sabut kelapa yang ditelentangkan. Sedangkan kelompok I misalnya a berdiri di antara anak–anak kelompok II misalnya; a berdiri di antara e dan f, b berdiri diantara f dan g, c berdiri diantara g dan h, dan d berdiri diantara h dan e sambil memegang tangan anak yang duduk di sebelah kiri dan kanannya. Selanjutnya mereka bernyanyi lagu blarak-blarak sempal bersama-sama. Bersamaan dengan itu mereka mulai berputar. Adapun cara berputarnya kedua tangan kedua anak dari kelompok II (e dan f) ditarik oleh kedua tangan a dari kelompok I. Demikian yang lain sehingga pantat mereka dapat terangkat. Nyanyian itu dilakukan berulang-ulang sampai posisi duduk mereka berubah.D engan berubahnya posisi duduk mereka maka selesailah permainan tersebut. Apabila menginginkan bermain lagi maka bergantian yang jadi (kalah) dan permainan dimulai dari awal lagi.
            BAKIAK
Bakiak adalah salah satu permainan tradisional. Bahannya dibuat dari kayu panjang seperti seluncur es yang sudah dihaluskan (diamplas, red:banjar) dan diberi beberapa selop diatasnya, biasanya untuk 2-3 orang. Memainkan bakiak biasanya secara berkelompok atau tim, yang masing-masing tim berlomba untuk sampai ke finish. Permainan ini menguji ketangkasan, kepemimpinan, kerja sama, kreatifitas, wawasan serta kejujuran.


SEJARAH BAKIAK
"Bakiak" sebenarnya permainan tradisional anak-anak di Sumatera Barat. Anak-anak dari Sumatera Barat yang dilahirkan hingga pertengahan tahun 1970-an, sering dan biasa memainkan bakiak atau terompah panjang ini. Bakiak panjang atau yang sering disebut terompa galuak di Sumatera Barat adalah terompah deret dari papan bertali karet yang panjang. Sepasang 'bakiak' minimal memiliki tiga pasang sandal atau dimainkan tiga anak. Biasanya juga untuk diperlombakan di tingkat kecamatan dan kelurahan pada 17 Agustusan.
Berbeda halnya dengan daerah Sumatera Barat. Bakiak merupakan sebutan di Jawa Tengah untuk sejenis sandal yang telapaknya terbuat dari kayu yang ringan dengan pengikat kaki terbuat dari ban bekas yang dipaku dikedua sisinya. Di Jawa Timur dikenal dengan sebutan Bangkiak. Sangat populer karena murah terutama dimasa ekonomi susah sedangkan dengan bahan kayu dan ban bekas membuat bakiak tahan air serta suhu panas dan dingin. Diperkirakan bakiak diinspirasikan oleh Jepang yang sudah memakai telapak kayu untuk Geisha-Geisha.
Geisha (bahasa Jepang:芸者 "seniman") adalah seniman-penghibur (entertainer) tradisional Jepang. Kata geiko digunakan di Kyoto untuk mengacu kepada individu tersebut. Geisha sangat umum pada abad ke-18 dan abad ke-19, dan masih ada sampai sekarang ini, walaupun jumlahnya tidak banyak. "Geisha," yang dilafalkan dalam bahasa Inggris:/ˈgeɪ ʃa/ ("gei-" - "may"). Di Kansai, istilah "geiko" (芸妓) dan geisha pemula "maiko" (舞妓) yang digunakan sejak Restorasi Meiji. Istilah "maiko" hanya digunakan di distrik Kyoto. Pengucapan ˈgi ʃa ("gei-" - "key") atau "gadis geisha" umum digunakan pada masa pendudukan Amerika Serikat di Jepang, mengandung konotasi prostitusi. Di Republik Rakyat Cina, kata yang digunakan adalah "yi ji," yang pengucapannya mirip dengan "ji" dalam bahasa Mandarin yang berarti prostitusi. Geisha belajar banyak bentuk seni dalam hidup mereka, tidak hanya untuk menghibur pelanggan tetapi juga untuk kehidupan mereka. Rumah-rumah geisha ("Okiya") membawa gadis-gadis yang kebanyakan berasal dari keluarga miskin dan kemudian melatih mereka. Semasa kanak-kanak, geisha seringkali bekerja sebagai pembantu, kemudian sebagai geisha pemula (maiko) selama masa pelatihan. Berikut adalah gambar alas kaki yang sering digunakan Geisha-Geisha Jepang.

MODIFIKASI BAKIAK YAITU BAKIAK TALI
Bakiak biasanya berupa kayu panjang mirip seluncur yang diberi beberapa selop, akan tetapi kali ini akan diberikan sesuatu yang sedikit berbeda yaitu bakiak tali. Dimana untuk selop tersebut digantikan dengan tali, yang panjangnya diperkirakan sampai ke tangan (sebagai pegangan). Berikut adalah cara pengolahan alat bakiak tali.
Bahan:
• 2 buah Kayu panjang dan tebal
• 1 gulungan tali tambang ukuran kecil
• 12 buah paku ukuran kecil
• Beberapa kaleng kecil cat warna warni
Alat:
• Palu
• Gunting
• Gergaji
• Mesin kataman (red,Banjar)
• Kuas untuk mencat
• Mistar ukur
• Pensil
Cara membuat bakiak tali
1. Pembuatan Papan
• 2 buah kayu panjang dan lebar diukur dengan mistar dan diberikan tanda dengan pensil, dengan perkiraan panjang 1,5 m dan lebar 15 cm.
• 2 buah kayu yang sudah diberikan tanda dengan pensil tadi, dipotong dengan menggunakan gergaji sehingga membentuk seperti papan seluncur.
• Setelah 2 buah papan terbentuk, maka haluskan dengan menggunakan mesin kataman (red,Banjar). Hal ini dimaksudkan agar papan menjadi halus sehingga tidak menciderai atau mengakibatkan kesuban (red, Banjar).
2. Pembuatan Tali
• Tali yang sudah disediakan diukur dengan menggunakan penggaris sepanjang +/- 1,5 m, kemudian potong







0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.